2 poin untuk digali lagi:
1. Detik bukan lagi portal iklan berberita, tapi menjadi portal berita beriklan. Coba anda bandingkan skrinsut yang dibuat om Momon. Layout Detik dahulu banyak “disetir” kepentingan pengiklan. Pada satu waktu malah pernah 1/3 bagian atas, yang konon merupakan bagian sakral menurut ilmu per-Zeldman-an, sepenuhnya terisi iklan.
Saya nggak menyalahkan pengiklan. Justru berterima kasih karenanya.
Online marketing adalah dimensi baru. Di Indonesia, komposisi budget online advertising rata-rata masih berada dibawah 5% dari total budget pengiklan. Wajar-wajar saja jika sektor ini, terutama tampilan dan tata letak iklan, masih kacau balau.
Dengan kondisi itu, mengakomodir kepentingan konten dan komersial lantas menyajikannya dalam paten yang ‘rapi’, jelas bukan hal gampang.
2. Blogdetik dan DetikMap itu hanya ‘appetizer’. Kita belum merilis main desert. Jika Detik berubah menjadi bukan hanya portal berita, apakah the-so-called kompetisi itu masih juga relevan?
Lantas apa saja main desert-nya?
Ada deh, hehe.
Banyak :)
ps. Saking banyaknya kita butuh 4 Java software engineer, 3 Ruby software engineer, dan 4 System Network engineer. Kalau anda suka humor, langganan TechCrunch/ReadWriteWeb, baca Wired secara reguler, dan penganut agama open source—itu artinya kita punya banyak hal untuk diobrolin.
Saya menunggu CV anda.

Berita di Detik itu memang krupuk. Ringan. Garing. Nggak ada gizinya. Anehnya, banyak orang suka krupuk ;)